Sudah Benarkah Puasa Kita?

Sudah benarkah puasa kita? puasa yang baik kesehatan  | efek negatif puasa ramadhan bagi kesehatan tubuh kita menu buka puasa yang baik untuk  kesehatan | puasa yang baik untuk kesehatan adalah cara puasa yang baik untuk kesehatan Sudah benarkah puasa kita?
menu buka puasa yang baik bagi kesehatan | petunjuk puasa yang baik dan benar agar tubuh semakin sehat. Sudah benarkah puasa kita?

Ditulis Oleh : Fety Khosianah (Dosen dan Pemerhati Kesehatan)

sudah benarkah puasa kita?
sudah benarkah puasa kita?

Artikel ini adalah artikel yang ditulis oleh Bu Andang Gunawan di majalah Nirmala, terbitan bulan Oktober 2003. Terus terang, saat pertama kali membacanya, artikel ini membuat saya terharu, dan membuka wawasan saya tentang perspektif puasa Ramadhan dari sudut pandang lain. Setelah membaca artikel ini, saya memandang puasa Ramadhan tidak hanya sebagai puasa religi yang menjadi kewajiban setiap muslim, namun ternyata memiliki aspek-aspek yang begitu dalam, dari sisi fisik, sisi moril, sisi emosi, sisi psikologis dan sisi spiritual, yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Setahun lalu, yaitu tahun 2014, setelah bertemu bu Andang, saya meminta ijin kepada beliau via inbox FB untuk menulis ulang artikel yang menurut saya sangat luar biasa dan menggugah hati saya ini, ke dalam notes saya. Dan beliau pun mengijinkan. Namun sayang, karena berbagai kesibukan, saya tidak sempat merealisasikan niat saya tersebut. Sekarang, saya bertekad merealisasikan niat saya, agar kawan-kawan juga mendapat wawasan dan perspektif baru tentang puasa Ramadhan.

Terima kasih tak terhingga dari saya untuk bu Andang Gunawan, atas tulisan yang luar biasa ini. Semoga menjadi bermanfaat untuk setiap kawan yang membacanya.

Sudah benarkah puasa kita?
———————————–

JUDUL ARTIKEL : “SUDAH BENARKAH PUASA KITA?”

Oleh : Andang W.Gunawan

Artikel dipublikasikan di Majalah Nirmala Oktober, Tahun 2003 (halaman 52-57)

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagai mana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa…”

“…berpuasa itu baik bagimu seandainya kamu mengetahui.” (Al Baqarah:183 dan 184)

Sudah benarkah puasa kita?
Jujur saja, banyak diantara kita yang belum memahami cara melaksanakan puasa yang benar. Mungkin lebih tepat jika disebut hanya memindahkan waktu makan saja, dari siang ke malam hari. Pemandangan seperti ini adalah kenyataan yang bisa kita lihat di mana-mana pada setiap bulan Ramadhan.

Sudah benarkah puasa kita?
Begitu masuk waktu maghrib bagi yang berpuasa memang diwajibkan segera berbuka. Bagaimana pun Tuhan lebih tahu batas kemampuan kita. Tetapi tidak pernah ada ajaran atau perintah Tuhan yang menyuruh kita langsung makan berat seperti orang yang sudah berhari-hari tidak melihat makanan dan terus mengisi perutnya sampai sesak kekenyangan.

Sudah benarkah puasa kita?

Hidangan bulan puasa memang sering terkesan lebih istimewa dari hari-hari biasa. Bagi kebanyakan masyarakat kita, makanan buka puasa seperti kolak, jajan pasar, dan makanan bersantan lainnya sudah seperti keharusan. Mereka mengatakan tidak afdol bulan puasa jika tidak ada kolaknya, es cendolnya, dan sebagainya.

Sudah benarkah puasa kita?

Perilaku berpuasa seperti ini jelas bertolak belakang dengan semangat Ramadhan, saat seharusnya kita berlatih mengendalikan hawa nafsu termasuk terhadap makanan. Padahal Rasulullah dalam hadistnya cukup memberikan contoh bagaimana adab berpuasa yang benar, yang Islami. Beliau berbuka puasa dengan makanan yang sangat sedikit berupa beberapa butir kurma. Cara makan dan minum beliau juga sangat tenang dan santun, bahkan boleh dikatakan khusyuk. Menurut Rasulullah: “Tidak ada tempat yang lebih dibenci Allah selain perut yang dipenuhi makanan halal.” Artinya makanan sehat dan halal pun tidak ada manfaat dan artinya jika dimakan berlebihan.

Sudah benarkah puasa kita?

Puasa yang demikian tidak ada manfaatnya, dari segi apa pun, bagi kita. Dengan menjalani puasa dari fajar sampai matahari terbenam, lengkap dengan berbagai aktifitas bulan puasa pada umumnya, kita sering beranggapan ibadah puasa kita sudah sempurna.

Sudah benarkah puasa kita?

Rahasia keutamaan puasa ada di dalam proses puasa itu sendiri yaitu proses yang terjadi dalam tubuh kita. Jika Tuhan sendiri mengatakan puasa itu baik bagi kita, berarti kita yang membutuhkan puasa. Hanya dengan mengetahui apa yang tengah berlangsung di dalam tubuh kita selama berpuasa, baru kita mengerti mengapa Tuhan mengatakan puasa itu baik bagi kita seandainya kita tahu. Dalam hadist Rasulullah yang lain Tuhan mengatakan bahwa mereka yang menjalani kehidupan sesuai dengan Al Qur’an niscaya panjang usianya.

Sudah benarkah puasa kita? SETIAP MAKHLUK PERLU PUASA 

Puasa adalah terapi pengobatan alami yang paling tua yang tidak pernah lenyap ditelan zaman. Selama ratusan tahun, jauh sebelum masa Rasulullah atau Nabi Isa a.s., puasa sudah digunakan manusia untuk penyembuhan. Tetapi karena orang Timur juga menggunakan puasa untuk mengasah ketajaman batin atau kesaktian, sistem pengobatan Barat lalu menempatkan puasa sebagai metode yang tidak ilmiah atau tidak bisa diterima akal sehat. Sementara dokter-dokter modern itu lupa bahwa Hippocrates (herbalis dan filsuf dari abad ke-5 SM, yang diakui sebagai Bapak Ilmu Kedokteran Barat) sendiri mempraktekkan puasa dan menyatakan puasa adalah “obat paling mujarab, penyembuh dalam tubuh kita sendiri.”

detoksifikasi pada puasa ramadhan
detoksifikasi pada puasa ramadhan

Akhirnya memang waktu juga yang membuktikan bahwa alam tidak pernah salah. Segala bentuk penyimpangan di alam, termasuk tubuh kita, adalah ulah kita sendiri. Jika pengobatan modern sudah angkat tangan, baru orang berpikir kembali ke cara alami. Salah satunya yang kini sedang menjadi trend pengobatan Barat khususnya di Eropa, adalah terapi puasa di klinik-klinik khusus puasa. Mereka akhirnya menyadari bahwa puasa memang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia.

Secara alami hampir semua makhluk ciptaan Tuhan di atas muka bumi ini membutuhkan puasa. Hewan mengikuti nalurinya melakukan puasa ketika sakit. Demikian juga tumbuh-tubuhan. Masa puasa dari tumbuh-tumbuhan paling mudah dilihat di negeri bermusim empat, yaitu pada saat musim dingin.

Semua bentuk ciptaan alam semesta dan yang mudah kita amati di depan mata sesungguhnya merupakan anugerah Sang Pencipta bagi manusia. Dicontohkan-Nya bagaimana hewan dan tumbuhan berpuasa, agar kita mengamati dan mencari tahu apa tujuan puasa dan mengapa kita perlu berpuasa. Tuhan begitu memuliakan kita dengan memberi kita akal untuk berpikir dan menelaah rahasia penciptaan-Nya. Tetapi sebagian dari kita tetap saja senang berkurung dalam kebodohan dan tidak tahu bersyukur kepada-Nya. Mereka adalah termasuk yang menganggap puasa sebagai suatu tindakan yang menyusahkan diri dan tidak perlu, bahkan dapat mendatangkan penyakit dan sebagainya.

Tetapi, diantara yang berpuasa pun tidak kurang yang tidak tahu tujuan puasa. Ada yang berperan semata-mata karena tradisi atau ada yang karena takut kelak tidak memperoleh pahala di surga. Padahal kalau puasanya benar, yang namanya pahala itu sudah bisa kita rasakan langsung setelah puasa, yaitu kesehatan kita.

Puasa, yang dalam bahasa Arab adalah shiyaam atau shaum, mempunyai dua arti: menahan diri dari makan-minum atau menahan diri tidak bicara. Walau pun dalam Al Qur’an shaum lebih banyak diterjemahkan sebagai puasa bicara, namun syariah/hukum Islam tetap menggunakan kata shaum sebagai ungkapan menahan diri dari makanan dan minuman serta perbuatan-perbuatan yang dapat membatalkan puasa, sejak waktu fajar sampai matahari terbenam.

Dalam konteks yang lebih luas, puasa adalah perbuatan meninggalkan segala sesuatu yang dapat meracuni jiwa, raga, dan pikiran, atau suatu cara untuk mengurangi/menghilangkan segala sesuatu di dalam sistem tubuh yang dapat meracuni fisik, emosi, dan mental.

Puasa adalah proses multidimensional yang akan dialami dan dirasakan manfaatnya oleh seluruh diri kita. Bukan hanya fisik, tetapi juga mental spiritual. Secara fisik, puasa mengistirahatkan organ-organ yang berkaitan dengan pencernaan, termasuk lambung, usus, pancreas, empedu, liver. Liver adalah organ pencernaan yang aktivitas metaboliknya paling tinggi. Selain berfungsi sebagai gudang penyimpanan dan distributor zat-zat makanan yang diperlukan sel-sel tubuh kita, liver juga mengendalikan keluar masuknya racun pada tubuh kita. Mengurangi jumlah dan frekuensi makan seperti puasa, menyebabkan liver lebih aktif dan leluasa melakukan pembersihan atau pembuangan racun (detoksifikasi) dari dalam tubuh. Pembersihan ini baru merupakan proses dasar puasa.

Racun berlebihan yang terus menumpuk selama puluhan tahun, ditambah lagi efek polusi lingkungan dan obat-obatan menyebabkan fungsi normal tubuh kacau dan system pembuangan macet. Tetapi dengan puasa timbunan besar ampas metabolisme dapat dikeluarkan lebih cepat karena fungsi dan aktivitas organ-organ pembuangan akan meningkat. Dalam proses ini, beberapa gejala pengeluaran racun dapat terlihat seperti warna urin yang lebih keruh, pengeluaran mukus atau lender melalui hidung (ingus) dan tenggorokan (riak), dan berlanjut melalui usus besar.

Selanjutnya, berkurangnya racun dari dalam saluran darah dan getah bening akan meningkatkan sirkulasi oksigen dan makanan ke seluruh sel dan jaringan tubuh, sekaligus juga melancarkan pengeluaran zat-zat yang tidak diperlukan dari dalam tubuh. Sel-sel yang sudah dibersihkan akan menjadi leluasa pula memperbaiki dan meningkatkan fungsinya karena beban-nya menanggung zat-zat racun sudah jauh berkurang. Agar sel-sel dapat melakukan yang terbaik bagi tubuh kita, kebutuhannya akan oksigen dan gizi setiap hari harus cukup. Sel-sel yang sehat dan kuat akan bekerja optimal mulai dari memperbaiki sel yang rusak sampai melakukan peremajaan sel. Itu sebabnya, dari aspek fisik, praktik puasa yang bentuknya seperti menukar waktu makan saja, atau cuma berpantang dari makanan tertentu, tidak ada manfaatnya sama sekali.

Jadi beralasan mengapa Tuhan banyak mengingatkan kita untuk tidak berlebihan, termasuk dalam hal makan. Rasulullah juga sudah mencontohkan kebiasaan makan beliau pada saat berbuka puasa atau waktu makan lainnya di luar bulan puasa. Beliau makan secukupnya dan cenderung sedikit. Beliau hanya menggunakan 3 jari tangan saat menjumput dan menyuapkan makanan ke dalam mulut (artinya makanan yang diambil setiap kali hanya sedikit). Beliau mengunyah makanan sebanyak 33 kali dan memasukkan air dari mulut ke tenggorokan dalam 3 kali tegukan. Ini merupakan contoh bahwa makan dan minum sebaiknya dilakukan dengan sikap tenang dan tidak terburu-buru. Secara ilmiah kebiasaan ini sekarang bisa dibuktikan sangat benar (lihat Pentingnya Perilaku Makan).

PENTINGNYA PERILAKU MAKAN

Setiap makanan harus diproses dahulu enzim dalam kelenjar ludah mulut. Semakin lama kita mengunyah, produksi air liur meningkat, sehingga makanan lebih mudah ditelan dan kita tidak perlu sering minum selama makan. Enzim ikut bersama liur, sehingga dengan lebih lama mengunyah, enzim mulut akan bekerja lebih aktif.

Sekitar 80 persen karbohidrat dicerna oleh enzim dalam kelenjar ludah mulut ini. Protein tercerna hanya 30 persen saja, sedangkan lemak sekitar 10 persen. Pencernaan karbohidrat baru dilanjutkan setibanya makanan di dalam usus halus. Lambung lebih banyak mencerna protein dan lemak.

Setiap makanan juga harus bersentuhan dengan asam lambung. Jangan membayangkan asam lambung dan enzim sudah menunggu di dalam lambung seperti air dalam gelas. Enzim dan asam lambung keluar dari dinding lambung dengan cara merembes sedikit demi sedikit. Itu sebabnya mengapa makan atau minum apa pun tidak boleh terburu-buru dan tidak boleh sampai kekenyangan. Asam lambung antara lain berfungsi mematikan bakteri yang lolos ke dalam perut, dan membawa enzim untuk mencerna protein. Protein yang tidak kena asam lambung tidak akan tercerna sempurna meskipun kita sudah memotongnya kecil-kecil dengan gigi atau pun pisau. Karbohidrat tidak dicerna di lambung, tetapi tetap perlu asam lambung yang juga berfungsi menstabilkan gula pada karbohidrat supaya tidak terfermentasi selama pencernaan protein berlangsung.

Kebiasaan makan yang tergesa-gesa, terlalu banyak jenis makanan yang masuk saat berdekatan, dan makan sampai kekenyangan dapat menyebabkan pencernaan di dalam mulut dan lambung tidak sempurna. Tubuh akan memperlakukan makanan tersebut sebagai sampah atau penyakit, dengan cara mengeluarkan sel-sel darah putih dan mukus.

PROSES DAN MANFAAT PUASA

Proses pengeluaran racun tetap berlanjut selama puasa dan sesudahnya. Tetapi detoksifikasi pada saat puasa berlangsung lebih intensif dibandingkan waktu-waktu lainnya. Gejala seperti penyakit biasanya juga tidak muncul lagi sesudah hari ketiga atau keempat puasa. Selanjutnya puasa akan terasa lebih ringan. Sakit kepala dan keluhan lambung pada penderita sakit maag umumnya juga sudah hilang setelah hari ketiga puasa. Kecuali gejala seperti flu yang biasanya agak lama, antara 1 dan 2 minggu. (Lihat tulisan : Cara Mengatasi Reaksi Tubuh Pada Saat Puasa).

Secara bertahap, dengan berkurangnya kalori saat berpuasa, liver akan mengubah glikogen (cadangan energi dari karbohidrat yang disimpan oleh hati) menjadi glukosa dan energi. Lemak tubuh juga dapat digunakan sebagai energi tetapi tidak dapat langsung diubah menjadi glukosa. Dari semua sel pada tubuh, hanya sel-sel otak dan sistem saraf pusat yang tidak dapat menggunakan sumber energi lain selain glukosa. Sedangkan dari protein, hanya sebagian kecil saja yang dapat menghasilkan glukosa.

Dengan puasa, sebagian simpanan protein pada otot juga terpakai, tetapi hanya sedikit jika selama puasa kita banyak mengkonsumsi buah-buahan. Protein baru diambil setelah persediaan glikogen menipis. Tetapi protein juga harus dipecah dulu mejadi asam-asam amino sebelum dapat diubah menjadi energi. Asam lemak digunakan paling akhir setelah energi dari protein mulai berkurang. Seperti protein, lemak juga diubah dulu menjadi keton sebelum menjadi energi yang dapat digunakan otak. Proses ini disebut ketosis.

Pada puasa, ketosis merupakan adaptasi tubuh untuk mencegah kekurangan protein akibat pembakaran lemak Makan makanan tinggi protein belum tentu meningkatkan jumlah protein dalam tubuh. Sebab semakin tinggi protein yang dimakan semakin banyak terjadi ketosis. Penurunan berat badan yang terjadi pada pola makan seperti ini sering tidak berarti, karena berat badan akan seperti semula begitu diet dihentikan. Proses pembakaran protein dan makanan mengandung protein lainnya, termasuk nasi, akan lebih banyak meninggalkan residu mineral pembentuk asam dan dapat menurunkan pH darah. Tetapi dengan banyak makan buah-buahan selama puasa, ketosis akan berkurang karena gula dari buah mudah diserap dan langsung digunakan sebagai energi (catatan: buah harus dimakan tersendiri, atau tidak dimakan sesudah dan bersama makanan lain).

Pembentukan keton biasanya baru dimulai pada hari ketiga. Pada hari ini juga sebagian orang sering merasa pusing. Ini disebabkan makanan dalam sel-sel otak sudah berkurang. Cukup istirahat ketika kondisi ini muncul sangat dianjurkann untuk menghemat energi. Pada hari ketiga juga biasanya tubuh mulai melakukan otolisasi. Yakni menguras zat-zat bersifat racun yang sudah merasuk jauh ke lapisan sel-sel tubuh yang paling dalam, dan juga ampas-ampas metabolism seperti timbunan lemak, abses, sel-sel aus, bisul-bisul, jaringan rusak, tumor, dan berbagai bentuk jaringan abnormal lainnya.

Dalam proses ini tubuh juga akan menstimulasi dan mempercepat pertumbuhan sel-sel baru, pada saat protein yang diperlukan disintesa ulang dari sel-sel yang sudah aus. Dengan demikian, kadar protein di dalam darah akan tetap konstan dan normal selama puasa. Pada dasarnya tubuh sangat efisien menggunakan protein dan simpanan zat-zat gizi lainnya. Selama puasa kebutuhan protein akan berkurang dengan sendirinya. Menurut data klinik puasa Buchinger di Jerman sampai minggu kedua kebutuhan protein menurun dari 100 gram menjadi 15-20 gram per hari. Jumlah ini cukup memenuhi kondisi puasa.

MAKANAN IDEAL UNTUK PUASA

Junkfood (makanan sampah) adalah makanan yang berpotensi untuk membentuk racun dalam tubuh. Karena itu sebaiknya dihindari, selama menjalani puasa. Junkfood bukan hanya fastfood. Semua makanan yang diproses sebenarnya sudah termasuk makanan sampah karena sebagian besar zat gizinya habis atau rusak. Makanan kalengan, makanan instan, daging olahan (bakso, sosis, kornet), bahkan makanan rumah yang berulang kali dipanaskan termasuk makanan sampah.

Makanan yang baik tetapi dalam proses pencernaan tidak tercerna sempurna juga akan menjadi junkfood dalam tubuh. Apa yang menyebabkan makanan tidak tercerna, sementara kita merasa sudah cukup mengunyahnya? Inilah penyebabnya:

  1. Kombinasi jenis makanan yang masing-masing membutuhkan enzim, pH dan proses pencernaan berbeda.
  2. Komposisi dan jenis makanan tidak memperhitungkan keseimbangan asam-basa tubuh.
  3. Makanan kurang lama dikunyah.
  4. Langsung menyantap makanan berat saat berbuka puasa atau setelah melakukan diet rendah kalori yang sangat ketat.

Pencernaan yang bertahun-tahun kita pertaruhkan dengan pola makan seperti itu menyebabkan makanan yang tidak tercerna terus menumpuk dalam usus besar (kolon). Kolon, sebagai bagian dari system pembuangan, merupakan organ yang tidak memiliki kemampuan mencerna makanan. Secara alamiah, ampas akan dipadatkan ke dinding-dinding usus halus dan kolon, dengan akibat produksi mukus (lendir) meningkat dan menambah jumlah ampas, sembelit, infeksi, dan kerusakan usus, dan selanjutnya kekurangan gizi karena fungsi penyerapan menurun.

Mukus adalah selaput lendir pada dinding usus yang juga berfungsi sebagai perangkat sistem kekebalan tubuh pada usus, karena mukus mengandung sel-sel darah putih atau antibodi. Namun zat-zat ini dapat berbalik menimbulkan masalah jika jumlahnya berlebihan. Zat-zat tersebut menjadi kerak dan bersama ampas lain yang sudah mengeras akan membusuk dan menghasilkan gas toksik yang akan terserap ke dalam darah melalui poros-poros dinding usus, ikut sirkulasi darah sampau ke sel-sel jaringan dan sewaktu-waktu siap menimbulkan masalah.

Dari semua makanan, buah adalah makanan yang paling banyak aspek positifnya untuk puasa. (lihat tulisan: Yang Menguntungkan Dari Buah). Cara makan buah yang tepat adalah yang dianjurkan dalam metode Food Combining. Pola makan ini, walaupun tidak ada uji klinisnya, adalah pola makan yang paling tepat digunakan saat puasa, juga sangat aman dan bermanfaat terutama bagi penderita diabetes.

Kebanyakan pasien diabetes dibatasi makan buah. Untuk hal ini, penelitian ilmiah sudah banyak dilakukan dan hasilnya secara tidak langsung sejalan dengan teori Food Combining, bahwa buah jika dimakan tersendiri tidak akan memicu produksi insulin. Buah segar (tidak dikalengkan atau dikeringkan) masih mengandung zat-zat gizi lain selain gula, yang beberapa di antaranya secara alami membantu transportasi gula ke sel-sel, sehingga tidak perlu insulin lagi. Zat-zat tersebut juga membantu menjaga keseimbangan kadar gula darah.

Protein dan karbohidrat, seperti nasi atau roti, walaupun cukup penting, tidak dapat mengistirahatkan dan membersihkan saluran usus, bahkan hanya meninggalkan ampas metabolisme yang dapat meningkatkan keasaman tubuh jika sering dimakan lebih banyak daripada buah dan sayuran.

Yang Menguntungkan Dari Buah :

  1. Proses pencernaannya relative cepat (sekitar 10-45 menit) dan dapat menghasilkan energi kurang dari satu jam. Sedangkan makanan lain perlu waktu antara 3 dan 11 jam.
  2. Untuk mencerna zat pati dalam buah, hampir tidak diperlukan energi dan enzim tubuh. Sebab buah menggunakan enzimnya sendiri.
  3. Buah kaya dengan vitamin dan mineral, zat-zat penting yang diperlukan untuk metabolisme protein, karbohidrat, dan lemak.
  4. Buah berkadar air tinggi dan mengandung jenis serat yang dapat melancarkan proses pembuangan.
  5. Buah adalah makanan yang praktis dan tidak perlu diolah.

 

PUASA MENINGKATKAN ENERGI SPIRITUAL

Melaksanakan puasa dengan benar, dengan sendirinya akan meningkatkan spiritual setelah tubuh selesai dengan proses pembersihan. Proses pembersihan ini pun harus melalui beberapa tahapan. Tahap akhir dari proses ini adalah pembersihan racun pada lapisan sel yang paling dalam, yang tidak dapat dilakukan oleh suplemen atau alat medis semodern apa pun.

Kita tahu proses ini hampir selesai jika kita mulai merasa rileks, tubuh maupun pikiran. Pada saat ini pembentukan energi juga semakin meningkat. Tandanya antara lain tidak mudah lelah-lesu-stres, meskipun menghadapi pekerjaan atau masalah besar. Perilaku kita akan menjadi lebih tenang dan mampu mengendalikan emosi. Setelah mencapai transformasi spiritual, kita merasa menjadi lebih ikhlas dan lebih positif dalam memandang dan menjalani kehidupan. Sebagian lagi merasakan kreativitasnya  juga semakin meningkat, selalu berpikir dan bersikap positif, tidak mudah cemas dan juga tidak ngoyo mengejar sesuatu yang sifatnya materi. Mereka sudah mencapai tahap takwa kepada Yang Esa dan percaya bahwa segala sesuatu di dunia ini sudah diatur olehNya.

Menurut dokter Gabriel Cousen, penulis buku kesehatan dan spiritual ‘Concious Eating’ yang juga spesialis terapi puasa, puasa yang benar akan meningkatkan dimensi energi sampai ke tingkat spiritual. Berkomunikasi langsung dengan Maha Pencipta hanya dapat dilakukan dan dirasakan setelah seluruh diri kita – jiwa,raga, pikiran – menyatu dalam mencapai tahap ini.

Sudah benarkah puasa kita?Menurut mereka yang sudah mengalami, komunikasi dengan Tuhan adalah komunikasi yang paling indah yang pernah mereka alami dalam hidup. Bisa jadi inilah yang dimaksud Tuhan dengan mengatakan “Puasa adalah untuk-Ku…”. Sudah benarkah puasa kita?

 

BACA JUGA ARTIKEL TERKAIT : INILAH YANG TERJADI SAAT TUBUH KITA BERPUASA

Panduan Puasa Yang Baik dan Benar

DAN JUGA CARA MENGATASI REAKSI TUBUH SAAT BERPUASA

Sudah benarkah puasa kita?

——————–

Sudah benarkah puasa kita? Semoga bermanfaat.

Sudah benarkah puasa kita?

Referensi: Dikutip sesuai aslinya dari Artikel Majalah Nirmala Bulan Oktober 2003, Sudah Benarkah Puasa Kita., penulis Andang W.G. (hal 52-57)